PUBABANG

Ilustrasi Dari Google Elly Darmawanti
Spread the love
1,773 Views

PUBABANG

By: elly dharmawanti

“Cuwit pelangkit  Pelandung anak mundit, Dipa sai tupai jeno Mit nanjak bubu jurak, Awas keti sanak Ajo kayu haga rungkak, Lung kiri api lung kanan”

*

Ilustrasi Google

Setiap menjelang tidur, datuk *1 Basar selalu bermain dan bernyanyi bersama cucunya  Ahmad, menyanyi  dengan  irama  dan  lagu  yang  sama  setiap  malam, sang cucu di   keatas kaki  datuk, dengan posisi tertidur lantas diangkat, di naik turunkan dan  mereka  akan  tertawa  bersama  dengan  riang  hingga  sang  cucu mengantuk  dan  lelap  dalam  pelukannya. Hal yang  sama  selalu seperti itu, seolah-olah  menjadi  rutinitas  wajib  sang  kakek  dan  cucunya.

Datuk menamai permainan tersebut  cuit pelangkit, sesuai dengan lirik awal nyanyiannya, yang menurut datuk merupakan permainan tradisional yang melambangkan kasih sayang,  keakrapan serta ikatan emosional antara kakek  nenek  dan  cucunya,    ayah  ibu  dan  anaknya    kakak  dengan  adiknya  dan  lain sebagainya  lambang  ikatan  batin  antara  para pemainnya. Biasanya permainan ini dilakukan  para  orang  tua  ketika  pubabang *2   anak  anak  mereka  yang  masih kecil.  Pada  akhir  nyayian  si anak  akan pura-pura  di jatuh kan dengan posisi miring  sesuai  permintaan  si anak ,  sebelah  kiri  atau  sebelah  kanan yang disambut dengan pelukan dan gelak tawa.

**

Seperti malam-malam yang lain, malam ini pun Ahmad mengajak datuk untuk bermain kembali, menarik narik kakinya yang mulai mengeriput, lantas mereka berdua  kembali  asik bercengkrama hingga sang cucu lelah dan terlelap “cuwit pelangkit/pelandung anak mundit/dipa sai tupai jeno/mit nanjak bubu jurak/awas keti sanak/ajo kayu haga rungkak/lung kiri api lung kanan” *3

***

Malam usai bermain bersama datuk,  ketika lelap, Ahmad, bocah usia delapan tahunan  itu  bermimpi, gigi  graham  bawahnya lepas   meninggalkan luka dan darah yang cukup banyak . Lantas  ia  menangis  sejadi  jadinya,  entahlah dalam mimpi  itu  Ahmad  merasa  begitu  terluka  hingga  menyesakkan  dada dan nafasnya.  Pagi ketika terjaga  dengan  penuh  ketakutan  ia menceritakan  mimpinya pada sang ibu, Aminah,  dengan setengah bercanda  sang  ibu menanggapi  bahwa  itu  hanya  bunga  tidur  yang  tidak perlu dicemaskan, toh pada kenyataannya gigi Ahmad tetap utuh  tidak seperti dalam mimpinya “ahmad mungkin lupa berdoa sebelum tidur ya” goda sang ibu mencoba menenangkan putranya. Meski sejujurnya  dalam hati  Aminah  pun  merasakan sesuatu yang lain begitu mendengar  mimpi Ahmad  anaknya.  Tapi  ia tak ingin  membuat Ahmad khawatir seperti yang ia rasakan,  sebab  konon  menurut   cerita turun  temurun  yang  ia dengar dari mulut ke mulut di kampung ini,  bahwa  apabila  kita  bermimpi  salah  satu  gigi  kita lepas,  maka  pertanda  akan  ada  duka  cita,  firasat  bahwa  seseorang  yang  kita cintai akan meninggal dunia .Astarfirullohhalazim, Aminah mengusap dadanya berusaha  menengkan  hati  dan  fikirannya.

****

Kamis  malam  nyaris  sama  dengan  malam-malam  yang  lain,  seisi  pekon  mulai sepi, udara yang berhembus dingin membuat kebanyakan orang enggan mininggalkan  rumah,  memilih  diam  atau  tidur lebih awal . Tapi  tidak  di  rumah datuk Basar,  malam ini  pun  masih  terdengar  nyayian  cuit  pelangkit  dari  ruang  tengah  keluarga,  mengalun  dengan  irama yang sama, dengan  ceria dan bahagian  yang  sama,  hingga  datuk  dan  cucunya  terlelap di bilik masing-masing.

*****

Pagi ini Ahmad bangun lebih awal dari biasanya, bergegas mandi dan mengenakan  pakaian adat yang sudah lama disiapkan ibunya.  Ini hari kemerdekaan, disekolah Ahmad seluruh siswa kelas satu di wajibkan pawai budaya mengenakan pakaian adat seluruh nusantara. Ahmad dengan bangga berkaca di cermin berulang-ulang, ia tersenyum ceria, lantas tergesa menuju bilik datuknya. Ia tidak sabar ingin menemui lelaki itu,  Ahmad ingin datuknya melihat ia dalam busana yang beda.

Berkali-kali Ahmad mengetuk pintu bilik, tapi tak ada jawaban “atuk,atuk” ucapnya berulang-ulang, Sepi, Perlahan Ahmad memutar gagang pintu, tak terkunci lalu ia dengan berjinjing kaki perlahan-lahan mendekati tempat tidur datuknya,dengan sebuah triakan ia berharap datuknya terbangun, kaget, lantas ia akan berhambur ke pelukan lelaki tua itu.

“ddoooorrrrrr” Ahmad berteriak sekuat tenaga mengagetkan datuknya, tapi tak ada reaksi, Ahmad mengira datuknya bercanda dan sudah mengetahui keberadaannya. Lantas Ahmad  mulai mengkelitiki telapak kaki datuknya, masih tak ada reaksi. Ia mengelitik lebih kuat lagi, tapi seketika tangannya berhenti begitu menyadari kaki itu begitu dingin begitu pucat. Ahmad bergegas menyibak selimut yang masih menutupi tubuh lelaki yang begitu ia cintai, di pegang dan di guncang-guncang tubuhnya, tak ada reaksi. Ahmad panik, nalurinya berkata  sesuatu telah terjadi pada   datuknya . Ahmad menjerit histeris dan memeluk tubuh kaku itu dengan sangat kuat, hingga  meggemparkan seisi rumah dan tetangga.

Keterangan

1.datuk : kakek ( dalam bahasa lampung)

2.pubabang : momong

3.artinya: naik turun/momong si anak manja/kemana  si tupai tadi/pergi memasang bubu terbalik/minggir anak-anak/ini kayu mau roboh/sebelah kiri apa sebelah kanan.

Print Friendly, PDF & Email

Related posts

3 Thoughts to “PUBABANG”

  1. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

  2. What’s up, every time i used to check website posts here early in the daylight, because i love to learn more
    and more.

Comments are closed.