“Mantra Penyembuh Luka”

Ilustrasi
Spread the love
1,446 Views


By :Elly Dharmawanti
*


“berkutek berkunang
Kejijek
mak ngisang
peh peh peh”

Ibu menyebutnya mantra penyembuh luka, perempuan sederhana yang memanjakanku dengan sepenuh jiwa. Aku dan ketiga adikku terbiasa dengan dongeng-dongeng yang selalu di dendangkan ibu setiap malamnya setiap harinya, sebelum beranjak tidur kami akan duduk mengelilingi dan memijat- mijat kaki ibu yang selalu siap dengan dongeng pengantar tidurnya, bahkan sering tampa sadar kami tertidur bahkan sebelum dongen selesai di kisahkan.

Ketika kanak-kanak, ibu adalah duniaku, apapun yang ibu katakan kepadaku aku mempercainya sepenuh jiwa, tanpa keraguan tanpa pikir-pikir, tanpa pertimbangan, begitulah seharusnya kanak-kanak di besarkan.
Begitu juga dengan mantra yang satu ini, ibu selalu melapalkan nya ketika aku dan adik-adikku tertimpa sesuatu, mulai dari jatuh hingga tergores benda tajam, yang menyebabkan kami menangis kesakitan, dengan tulusnya ia akan melapalkan mantra sambil mengusap-usap pada sumber rasa sakit, yang seperti biasa di ujung mantra mulut ibu akan pura-pura meludah dan berucap peh..peh..peh..ajaibnya begitu kata peh terakhir keluar dari bibir ibu jerit tangis dan air mata seketika berhenti, aku tidak merasa sakit lagi, tepatnya aku mengabaikan rasa sakit dan tersenyum melihat kebeningan mata ibu.

**
Begitulah, bahkan hingga aku dewasa dan jauh dari dekapan hangat ibu, aku tak pernah lupa dengan mantra penyembuh luka, dengan cara ibu melapalkannya, dengan wajah teduhnya.

Terkadang ketika tak sengaja kakiku terbentur sesuatu, atau tanganku tergores, aku dengan keyakinan penuh melapal diam-diam mantra ibu, kemudian tersenyum dan tertawa melupakan rasa sakitnya


“maafkan aku, aku tak bermaksut dengan sengaja menghianatimu, mengingkari janji yang sudah kita sepakati, mengingkari mimpi-mimpi yang sudah kita susun selama ini, sungguh aku tak sengaja, aku juga tidak yakin dengan yang aku lakukan, hanya semuanya begitu cepat, begitu rumit untuk aku jelaskan” dengan berlinang air mata Anton bersimpuh di hadapannku, memohon maaf atas semua yang terjadi ,tubuhnya lelah, kentara sekali dari sorot matanya betapa ia tertekan, betapa penyesalan begitu menyiksanya, betapa ia merasa semuanya hancur tak tersisa. Aku terpaku, tidak bergerak dari posisiku, dadaku sesak seperti hendak meledak, tapi tak ada satu patah katapun yang sanggup keluar dari bibir ku yang bergetar menahan sakit, amarah dan kebencian, air mata tak bisa lagi kutahan, duniaku seketika hancur, Tidak penting lagi apa yang ia katakan, tidak penting lagi seberapa dalam ia menyesal, tak penting lagi seberapa banyak kata maaf yang ia ucapkan, tidak penting lagi berapa lama waktu yang aku habiskan bersamanya, tidak penting lagi semua hal indah yang pernah aku lalui dengannya, tidak penting lagi semua janji dan kata setia, tidak penting lagi.

Hatiku dipenuhi amarah dan kebencian, seketika rasanya ingin aku membunuh lelaki itu, mencabik-cabik tubuhnya dengan tanganku, tapi anehnya bukan itu yang aku lakukan, dengan kaki gemetar dan isak tertahan, tanpa bisa kucegah aku melepas tanganku dari genggaman, tubuhku mundur menjauh dari hadapan Anton.


Bermula dari Jum’at pagi yang mendung, di luar kebiasaan, anton mengirim pesan pendek yang sepertinya penting dan mendesak, ia ingin menemuiku sepulang kerja di suatu tempat yang sudah ia tentukan. Meski sedikit heran dengan pesan yang ia kirimkan aku menyanggupinya, tanpa curiga, tampa prasangka.

Aku melewati hari itu seperti biasa, memeriksa dan menyelesaikan beberapa dokumen, membuat catatan-catatan, ngobrol dan makan siang dengan rekan-rekan, hingga waktu yang di janjikan, dengan langkah ringan aku memasuki pintu mobil, menyalakan musik kesukaan dan tentu saja sesekali turut berdendang.


Aku datang terlambat, jalanan macet, begitu tiba di lokasi aku menemui Anton di sebuah ruangan dalam sebuah restoran yang asri dan menyejukkan, meski rasa heranku tak bisa kututupi lagi, melihat ini diluar kebiasaan, aku mengayunkan langkah. Ia ada disitu, duduk terpaku, tubuhnya lunglai dan kusut masai, aku seperti tidak mengenal lelaki itu, lelaki yang sudah mengisi hidupku dua tahun terakhir ini, lelaki yang padanya aku mempercayakan mimpi-mimpiku, lelaki yang dengan bangga kukenalkan kepada ibu sebagai calon imamku, lelaki yang kudambakan kelak menjadi ayah bagi anak-anakku.

“ada apa” rasa ingin tau dan heranku menjadi satu, kami duduk berhadapan, ia menggenggam tanganku dengan gemetar, kemudian satu persatu terurai, bermula dari satu kesalahan bahkan bisa dibilang sebuah ketidak sengajaan.

“kamu tau Bara kan? Teman kuliahku dulu, yang pernah aku kenalkan ketika kita ke semarang waktu itu, belum lama ini mereka menetap di jakarta” Anton mulai bersuara memecah kehingan yang tiba-tiba hadir di antara kami, meski merasa heran dan menduga-duga apa yang akan ia bicarakan, aku mengangguk, menandakan bahwa aku masih mengingat teman yang ia maksut.

“Aku bersama beberapa teman menerima undangan perayaan ulang tahun bara di rumahnya, hanya perayaan kecil tanpa pesta, kami hanya makan dan minum- minum yang sialnya ada alkohol di dalamnya, aku tidak curiga, meski tubuhku linglung, kami menghabiskan malam dengan berbagai cerita dan tertawa bahagia…entahlah aku tidak bisa mengingat semuanya, tidak juga bisa mengingat seberapa banyak alkohol merusak kerja otak dan tubuhku, aku tersentak ketika bunyi pintu di dobrak dengan kerasnya, ketika kesadaranku mulai kembali, aku sudah berada di sebuah kamar dengan adik perempuan Bara menangis disebelahku tampa busana, selanjutnya bisa kamu bayangkan kemarahan keluarga mereka dan aku harus mempertanggungjawabkan semuanya” Ia berhenti bercerita, meremas rambutnya dengan tangis tersedu, memukul-mukul kepalanya dengan sangat keras bahkan nyaris seperti orang gila.

Aku tau ia bersungguh-sungguh, ia sedang tidak berbohong, sedang tidak main-main dengan pengakuannya, aku juga bisa membaca sorat mata yang kukenal itu, betapa ia menyesal, betapa ia ingin aku memaklumi dan mengerti atas semua kondisinya.

Tubuhku kaku, mendadak aku merasa sesak dan pandanganku mengabur oleh air mata, selanjutnya aku tidak bisa mendengarkan lagi apa yang ia ucapkan, suranya hanya menyerupai dengungan lebah, atau kebisingan pasar malam. Sungguh aku tidak tau harus berkata apa, apakah aku harus menangis sekuat-kuatnya atau marah dan histeri atas semua kebodohannya, aku tidak tau, yang aku tau duniaku hancur seketika, dunia dan mimpi yang telah aku bangun bersama.

Semua yang terjadi begitu cepat, melebihi kecepatan cahaya dalam ilmu fisika yang pernah ku pelajari ketika SMA, aku tidak bisa menerima, tidak bisa menerima sesuatu yang berharga di rengut tiba-tiba dari hidupku, cintaku, mimpi-mimpiku, hatiku, aku tidak bisa memaafkan Anton atas semua yang dia lakukan, meskipun aku tau itu diluar kesadaran. Sungguh aku tidak bisa


Berhari hari setelah itu, jangan pernah tanya hatiku, aku bahkan lupa cara makan dan tidur, lupa bagaimana harus menegakkan kepala dan tersenyum, aku benar-benar hancur, meski sudah tak terhitung lagi berapa kali Anton meminta maaf dan menghubungiku, tidak ada gunanya, tidak bisa diperbaiki lagi, apapun yang terjadi dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, dia tidak akan kembali, dan aku benar-benar mati.


Dan kini meski sudah tak terhitung ratusan kali kurapal mantra sakti ibu dengan sepenuh hati, berharap keajaiban masa kecilku hadir kembali, berharap tak ada sakit lagi, berharap aku masih bisa bermimpi…berkutek berkunang kejijek mak ngisang peh..peh..peh, dengan mata berlinang kupegang dadaku yang sakit…ahhh ibu maafkan aku, kali ini mantramu tak mempan untuk hatiku.

Print Friendly, PDF & Email

Related posts