‘PERNIKAHAN ADAT LAMPUNG PESISIR KRUI” PART 2 # NYUSUN BANGGAN

Foto dari :http://thebridedept.com/
Spread the love
1,567 Views

TABIK PUN

Apa kabar semuanya …..

Semoga selalu sehat dan bahagia serta dalam lindungan yang Maha Kuasa…amin

Masih dalam proses tahapan pada pernikahan adat Lampung Pesisir Krui ya geeeessss… kali ini kita akan membahasa langkah lanjutan setelah “ngulang banggan “ pada #part 1 sebelumnya.

Tahapan selanjutnya setelah pinangan dalam “ngulang banggan “diterima adalah “Nyusun banggan”…….yyuuuuuuk mareee….

Sumber foto : dokumen pribadi Elly Dharmawanti

**
“Nyusun Banggan” dalam bahasa indonesia serupa dengan lamaran, merupakan sesuatu penentuan bagi pelaksanaan prosesi pernikahan itu sendiri, kapan waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak, mau seperti apa prosesi pernikahanya nanti, termasuk “bunyi “ (semacam status pernikahan dalam adat itu sendiri ) yang akan dipakai nantinya.

Pada masyarakat Lampung Pesisir Krui ada beberapa “bunyi” dalam adat pernikahan yang biasa dilaksanakan :
⦁ Semanda : meranai yang ikut keluarga besar pihak muli , dimana dalam proses nya, pihak keluarga muli mengeluarkan pemberian kepada keluarga pihak meranai berupa katil (tempat tidur *dalam bahasa Indonesia),ajang (perangkat makan) dan lauk pauk,seperangkat pakaian dan pemberian adok atau gelar sesuai dengan status sosial keluarga pihak muli.
⦁ Metudau: muli yang ikut keluarga besar pihak bujang, dalam proses metudau ini, pihak meranai yang mengeluarkan pemberian kepada pihak muli, berupa katil, ajang dan lauk pauk, pakaian dan gelar adok sesuai dnegan status sosial keluarga pihak meranai, selain itu, pihak meranai juga memberikan “jujor” kepada pihak muli sesuai kesepakatan diantara keduanya (bisa berupa emas,uang tunai atau barang berharga lainnya)

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, semanda dan metudau jarang sekali dilakukan, para calon kebayan (pengantin dalam bahasa Indonesia) memiliki kebebasan sendiri dalam menentukan rencana pernikahan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta keuangan masing-masing,

**
Saat ini kebanyakan pasangan calon kebayan memilih menikah tanpa “bunyi” atau dalam masyarakat umumnya sering disebut dengan istilah “ kawin riya” ini merupakan pilihan yang netral, dimana kedua belah pihak meranai dan muli memiliki hak dan status yang sama dalam keluarga asal masing-masing, merupakan pilihan yang banyak di lakukan oleh pasangan pengantin sekarang, dimana keluarga besar tidak terlalu ikut campur dalam hal-hal mendasar pada sebuah pernikahan (semisal, akan menetap di mana, ikut pihak mana setelah menikah nanti dll ) keputusan tertinggi tetap diserahkan kepada kedua pengantin, termasuk masalah “seserahan” (semacam hadiah pernikahan dari pihak meranai ke pihak muli) diserahkan sepenuhnya pada kesepakatan kedua belah pihak apa saja jenis dan berapa jumlahnya.

Sooo gessssss, terlepas dari itu semua, menikah tetap bukanlah perkara mudah, bukan hanya sekedar menyatukan dua pribadi, tapi juga tentang menyatukan dua keluarga besar dengan krakter dan latar berbeda…..sooooo tetap semangat meski #dirumahaja dan dalam kondisi apapun yaaa…sampai ketemu di #part selanjutnya…dan jangan lupa jika diluar rumah tetap kenakan maskernya.

Salam sayang dari mami
tabik

Print Friendly, PDF & Email

Related posts