Muli Tuha,Bebai Rik lawok”

Foto Ilustrasi,Sumber : Google
Spread the love
1,740 Views

By : elly dharmawanti

*

Pagi nan indah, Siti keluar dari rumahnya menuju pantai.Semalah hujan deras sekali, pasti luapan air laut membawa banyak pasukan kayu-kayu basah yang bias ia keringkan menjadi kayu bakar. Di pantai, banyak sudah perempuan-perempuan lain yang mulai mengumpulkan kayu,mereka saling tegur sapa dengan akrap, wajah-wajah begitu ceria dengan senda gurau.

Siti hanya menatap mereka dari kejauhan ,ia begitu ingin bergabung dengan mereka, merasakan keakrapan dan kehangatan yang ada, tapi ia hanya menarik napas panjang, lalu memutar langkah menuju garis pantai yang berlawanan arah.Dalam dia ia kumpulkan ranting-ranting kayu basah.

**

Bagi siti hidup tak pernah adil, ia tidak pernah  diperlakukan adil oleh keluarga dan lingkuingan.Siti begitu iri dengan kehidupan kedua adik perempuannya  laila dan Nur, mereka berdua lahir dengan segala kesempurnaannya, mereka cantik dan pintar (menurut bapak). Iya paling tidak mereka berdua pintar menarik perhatian banyak lelaki, sehingga mereka berdua sudah memiliki suami dalam usia yang masih tergolong muda. Ketika itu Siti meras sakit  hati dan hancur,ketika perlahan-lahan kedua adiknya melangkahi dia  dalam perkawinan. Tapi ia sadar ,ia juga tidak akan pernah memiliki sebuah keluarga kecil yang manis seperti yang  sering ia bayangkan.

“mengapi nyakku terlahir bida mak, mengapi nyak bida jak adik-adikku”Siti menangis dipelukan  emak.  Seperti biasanya perempuan tua itu hanya terdiam, lantas keduanya larut dalam tangis berkepanjangan.

Bagi Siti hanya emak yang ia punya di dunia ini,hanya emak yang mengerti perasaannya, hanya emak yang melindungi dan membelanya dari cemoohan orang-orang, termasuk kedua saudara perempuannya. “pudak beruk,pudak beruk,pudak beruk usuk”ejekan yang sangat akrap ditelinganya.

***

Menurut cerita emak,ketika Siti dalam kandungan tidak ada hal ganjil yang emak rasakan.Emak dan bapak begitu bahagia menanti saat-saat kelahirannya,hingga tiba ia hadir di dunia dengan batuan dukun persalinan emak berjalan dengan normal dan lancer. Awalnya emak dan bapak tidak menyadari  bahwa bayi yang mereka timang, sepasang kakinya tidak sama panjang.juga tidak begitu peduli dengan bercak merah kehitam-hitaman di pipi sebelah kanannya.Mereka mengasuh Siti dengan penuh kasih sayang. Semakin hari fisik Siti makin berkembang,termasuk bercak merah di pipi kanannya yang trus melebar dengan bulu-bulu hitam diatasnya hingga menutupi seluruh bagian muka hingga bagian lehernya.Segala upaya penyembuhan sesuai yang terjangkau biayaya telah dilakukan emak dan bapak,tapi tidak ada yang membuahkan hasil,membuat dunia Siti menjadi gelap dan hampa.

Malam ini emak mengeluh sakit lagi,akhir-akhir ini cuaca tidak bersahabat mebuat emak sering batuk dan sesak napas.Siti member emak obat sambil memijit-mijit  kaki perempuan lanjut usia itu dengan penuh kasih.

Setelah bapak meninggal dua tahun lalu,Siti hanya tinggal berdua dengan emak,menggantungkan hidup dari sepetak sawah sementara kedua saudara perempuannya tinggal jauh di tempat lain bersama suami dan anak-anaknya, hanya sesekali  mengunjungi gubuk kecil yang telah membesar dan merawat mereka.

Kelelahan memijit , siti pulas tertidur disebelah kaki emak,ada butir-butir bening menalir dari sudut mata perempuan tua itu, tangannya yang lemah membelai rambut siti dengan perlahan “malang nihan nasipmu nak” lirih perempuan itu berguma, lalu sebaris doa keluar dari bibirnya lirih nyaris tampa suara.

****    

Sebelum subuh tiba, seperti biasa Siti  sudah bangun, mencuci muka di sumur belakang rumah, lalu menyalakan tungku merebus air menanak nasi dan lauk seadanya.Emak masih lelap dalam selimut usangnya. Siti termangu di depan tunggu yang menyala. Tidur tadi ia bermimpi, seekor ular sangat besar melilit tubuhnya, kuat hingga ia nyaris tak bias bernapas, lalu ia teringat emak pernah bercerita bahwa mimpi di lilit ular adalah pertanda bahwa jodoh seseorang sudah sangat dekat, siti berguma “ apa mungkin” lalu mengangkat air yang mulai mendidih.

Seperti pagi-pagi yang lain, siti selalu ke pantai, meski tidak banyak kayu basah yang bias ia kumpulkan.Baginya ke pantai yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah, sama halnya dengan mengunjungi dunia lain, dunia yang indah yang bias ia nikmati dalam kesendirian. Pantai sepi, Siti duduk di bawah pohon pandan sambil menekuk lutut memandang laut biru, lirih ia bersenandung  /mati sakik hurikmu badan/selalu tiram dawah dibing/nyak minjak pedom/ diguya hiwang/niku dilom hanipi/

Matahari masih enggan menampakkan sinarnya dengan sempurna, siti berhenti bersenandung,ia menatap dikejauhan laut,ke sekawanan camar yang terbang bebas di angkasa,terlihat riang dan indah gerakan mereka. Siti jadi iri dan membayangkai ia adalah salah seekor dari camar itu. Tiba-tiba…uupppsss..Siti jadi sulit bernapas, pendangannya gelap, seperti ada yang menarik badannya ke belakang,siti menyadari bahaya mengintainya ketika sadar bahwa kepalanya telah ditutupi dengan kain warna gelap dari belakang oleh tenaga yang sangat kuat. Sementara ada tangan yang mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain dan berusaha menarik membuka paksa baju yang ia kenakan. Siti berontak, melawan sekuat tenaga yang ia bias.terdorong naluri untuk menyelamatkan diri siti menendang, mendorong menggigit, memukul kekanan kekiri, kedepan ,kebelakang, ke udara kosong. Dan ia masih kesulitan bernapas, mulutnya tidak bias bersuara, ia ingin sekali berteriak meminta pertolongan, dalam kepanikan dan keputusasaan, tiba-tiba..tap, ujung kakinya menyentuh sebuah benda keras, sepertinya kayu,reflek  ia berjongkok, memunguti benda tersebut, hup kena,ia pukulkan berkali-kali kearah orang yang membekapnya.kain yang menutupi kepalanya mulai sedikit mengendur. Siti makin semangat, memukul membabi buta, ke kiri ke kanan,depan belakang hingga ia rasakan tidak ada lagi tenaga yang membekap tubuhnya.Siti bebas, ia lari sekencang-kencangnya, tampa arah tampa tujuan, lari,lari dan lari.

Saat kakinya mulai lelah , ia baru menyadari bahwa kepalanya masih tertutup kain, dengan kesal ia tarik benda tersebut.Matanya mengerjab melihat sekeliling, ia masih berada di pinggir laut, tapi jauh di tempat lain. Ia terkulai lemas di pasir, menangis sesungkukan, matahari diatas kepala, dengan gontai ia ayunkan kaki menuju rumah.

*****

Sakit emak semakin parah, perempuan tua itu masih terbaring di ranjangnya yang reot, begitu melihat siti membuka pintu, ia mengisyaratkan supaya siti mendekat.Emak seperti tau kesedihan anaknya, siti bersimpuh di samping pembaringan, emak membelai rambutnya dengan lembut.Siti mulai terisak, mula-mula perlahan, lalu mulai mengeras berkelanjutan.Sungguh siti tidak mampu menceritaka peristiwa yang ia alami. Tanga emak masih mengusap kepalanya, pelan, pelan, pelan makin pelan dan akhirnya berhenti untuk selamanya.

*******  

Setelah  puas menangis, Siti baru menyadari tangan emak masih di atas kepalanya, tapi tidak sedang  membelai rambut seperti yang biasa ia lakukan.Siti mengangkat kepalanya melihat emak, mata emak terpejam, tenang. Siti merasakan dadanya bergetar,seluruh persendiannya melemah, bangkit ia dengan panik mengguncang-guncang tubuh ringkih itu, sambil memanggil-manggil peremempuan yang paling ia cintai itu. Ia raba nadinya, tak ada denyut, didekatkannya kuping ke dada, tak ada detak, di letakkannya jari tangan di kedua lobang hidung,tak ada napas berhembus.siti lunglai dalam tangis berkepanjangan,  ketika menyadari bahwa kini ia benar-benar sendiri.

Print Friendly, PDF & Email

Related posts

One Thought to “Muli Tuha,Bebai Rik lawok””

  1. Acep Karyadi

    Sedih banget ceritanya 😥,.

Comments are closed.