“Buyung”

Ilustrasi Sinetron "Buyung & Upik"
Spread the love
696 Views

*

“Dasar anak kurang ajar mulai berani membantah bapak, mau seperti apa lagi bapak mengajarimu, mau seperti apalagi bapak melarangmu” terdengar geram suara bapak bahkan dari kamarku yang berada paling ujung dirumah panggung ini terdengar sangat jelas, apalagi para tetangga yang barang kali sengaja menempelkan kuping mereka di dinding rumah-rumah papan, dengan seksama menyimak mendengarkan pertengkaran antara kakak lelaki tertuaku dengan bapak yang akhir-akhir ini  nyaris terjadi setiap hari, tanpa satu orang pun isi rumah yang sanggup melerai, tidak juga ibu.

Namanya Mahardika, teman-teman sebayanya biasa memanggil Dika, tapi dikeluarga ia biasa di panggil buyung, kecuali aku yang bungsu pantang memanggil dengan sebutan itu, ia anak ketiga dalam keluarga kami, tepatnya diatas aku yang bungsu, tiga kakaknya perempuan semua, adik bungsunyapun juga perempuan, ia anak lelaki satu-satunya di keluarga kami, anak lelaki yang menjadi kebanggaan keluarga, anak lelaki yang kepadanya tertumpu harapan bapak dan ibu, anak lelaki yang berjiwa pembangkang, anak lelaki yang mencintai kebebasan, anak lelaki yang impiannya jauh melintasi samudra, yang mimpinya menjelajah berkelana kebelahan benua yang lain.

**

Aku memanggilnya udo, usia kami terpaut cukup jauh, ia tujuh tahun diatasku, menurut cerita ibu, dulu kelahiranku diluar perkiraan dan tidak direncanakan. Udo merupakan panggilan bagi anak lelaki tertua dalam keluarga lampung, ia memiliki garis wajah dan rahang yang tegas, sorot mata penuh semangat, postur tubuh yang tinggi dengan kulit yang tidak terlalu putih. Meski pembangkang, ia sangat menghormati saudara-saudara perempuannya, ia sosok yang penyayang terutama padaku adik bungsunya. Ia mempercayakan semua impian dan rahasianya padaku tanpa perlu khawatir aku akan membocorkannya, ia yang selalu siap menjagaku dari gangguan teman-teman sebaya yang kadang usil, ia yang dengan rela menyisihkan uang tabungannya hanya untuk membelikanku buku bacaan terbaru.

***

Perang dingin dengan bapak mulai terjadi, ketika ia menolak perintah bapak untuk tidak meningalkan rumah setelah tamat sekolah menengah atas, bapak ingin ia tetap tinggal di rumah panggung, meneruskan tradisi sebagai petani menggarap sawah yang telah diwariskan dari generasi kegenerasi, dan ia menolak dengan tegas dan berani, ia tidak mau menuruti perintah bapak seperti tiga kakak perempuannya. Ia menolak menjadi seperti kebanyakan pemuda di kampung ini, bukan karena ia tidak mencintai tanah kelahiran dan keluarganya, bukan karena ia membenci pekerjaan sebagai petani, bukan, bukan itu. Ia punya mimpi yang lebih tinggi, mimpi yang berulang-ulang ia ceritakan padaku dengan mata berbinar dan bahagia. Mimpi yang membuatnya menentang bapak, mimpi yang membuat ibu menangis diam-diam di kamar menyaksikan mereka bertengkar hampir setiap hari.

***

Di kampungku, hanya ada sekolah dasar, untuk melanjutkan sekolah di tingkat pertama dan menengah atas  harus rela berangkat setelah sholat subuh, berpeluh mengayuh sepeda selama satu jam lebih, kemudian baru diteruskan dengan menumpang bus atau truk pengangkut barang menuju kota kabupaten, jelas bukan perjuangn mudah, bisa sekolah sampai SMA saja itu sudah luar biasa, kebanyakan bahkan sekolah dasar saja mereka tidak tamat, kebanyakan orang tua masih berpikir, asal bisa menulis, membaca dan berhitung saja itu lebih dari cukup, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, hanya mengabiskan uang, apalagi bagi anak-anak perempuan, mereka hanya dididik untuk patuh, untuk bisa mengurus rumah dan keluarga, karenanya ketiga kakak perempuanku pun semuanya menikah diusia belia. dan celakanya hal seperti ini tidak berlaku bagi buyung udoku, ia ingin sekolah lebih tinggi lagi, ia tidak ingin menjadi seperti pemuda kampung lainnya, ia ingin mewujutkan mimpinya menjadi dokter seperti yang ia  sering kemukakan padaku.

“menjadi dokter itu pekerjaan mulia dek, udo ingin bisa menolong banyak orang, menjadi perpanjangan tangan tuhan sebagai penyelamat “ ceracaunya dihadapannku ketika kami berdua duduk di beranda rumah panggung “ udo sedih melihat susahnya orang yang tinggal dipelosok seperti kita ini,untuk berobat dan medapat pertolongan medis yang layak” aku yang tidak terlalu mengerti apa yang ia bicarakan, hanya bisa mengangguk-angguk sambil tak berhenti mengunyah jambu biji yang kami ambil dari belakang rumah.

Bapak jelas menentang keras keinginan anak lelaki nya, dan ibu meski ia ingin anaknya selalu ada di dekatnya, tapi ibu juga tidak bisa melarang keingian putranya, meski ibu juga tidak berani terang-terangan menunjukkan dukungannya kepada putra tercintanya, bagi ibu apapun pilihan anaknya asal mereka bahagia, itu sudah cukup.

****

Besok merupakan hari  yang ditunggu-tunggu oleh udoku, besok pagi ia akan berangkat lebih pagi, untuk menerima ijazah kelulusan dan akan terbang jauh megapai mimpinya. Pertengkaran demi pertengkaran dengan bapak yang tak ada akhirnya membuat udoku mengambil keputusan nekat untuk pergi, meninggalkan kami, meninggalkan kampung ini, menggapai mimpi-mimpinya sendiri. “ udo akan berjuang dek, tak akan berhenti hingga udo bisa menggapai mimpi udo, dan sebelum itu terjadi, udo tidak akan kembali” nyaris berbisik ia sampaikan itu beberapa hari sebelum hari kelulusan itu tiba “ ini rahasia kita, tolong jaga dan tolong besok setelah hari sore dan udo belum pulang juga, sampaikan ini kepada bapak dan ibu” ia menyodorkan amplop putih ketangan ku “ simpan baik-baik dek, dan jangan di serahkan sebelum sore besok” ia mengulang kembali pesannya sambil memelukku lebih erat lagi. �64H������

Print Friendly, PDF & Email

Related posts