KROE 1886

Spread the love
519 Views

PROLOG

Cerita  tentang perjalanan 2 tokoh menyusurin Kroe (yang saat ini adalah Kab. Lampung Barat Dan Kab. Pesisir Barat), mereka berdua Abdul Suseno dan Lekat Ale, Abdul  Suseno  bekerja di kantor Karesidenan Bencoelen, asal dari Soerabaja, keturunan Arab, Jawa, madura dan Ambon, meski bukan anak priyayi, si Dul ini biasa dipanggil,  bisa jadi pamong praja rendahan dan ditugaskan di Karesidenan Bencoelen, sementara   Lekat Ale, adalah anak Prowatin (jabatan sekarang adalah kepala desa ) di Kroe. Mereka bersahabat ketika  sama sama menemani  OL Helfrich seorang pejabat Pemerintah Kolonial Belanda, mereka bertiga masih muda, usia sekitar 25 tahunan. Dalam sebuah ekspedisi ilmiah terkait Krui atau Kroe tentang geografi, geologi, etnologi, yang terangkum dalam buku  “ Bijdrage Tot De Geograpische, Geologische En Ethnograpische Kennis der Afdeeling Kroe” yang selesai ditulis tanggal 16 Desember 1886.

Abdul Suseno berperan sebagai penerjemah, dan lekat Ale sebagai penunjuk jalan jalan di Kroe dan penerjemah bahasa lampung Krui, Penokohan 3 tokoh ini bak dua sisi mata uang, OL Helfrich lebih pada gaya pejabat Kolonial yang selalu ingin dilayani, dan dua tokoh “inlander”  adalah pelayannya.

Mereka bertiga punya prespektif berbeda dalam memahamin ekspedisi Ilmiah ini, OL Helfrich cukup profesional dan proporsional dalam tulisannya, meski subyektifitas sebagai penguasa lebih dominan, sementara Abdul Suseno meski dia salah satu pamong praja Pemerintah Hindia Belanda di Bencoelen, meski rendahan, merasa miris terhadap prilaku pemerintah lokal yang disebut Pasirah, terkait sifat keberhambaan kepada atasannya yang nota bene adalah bangsa Asing, yakni Belanda.  Dan wajar saja karena semenjak 1824 ketika Inggris tukar guling wilayah kekuasaan dengan Belanda, Kroe yang ada dimasukkan ke benkoelen, dan tentu dominasi Kerajaan Belanda yang diwakilin Gubernur Hindia Belanda di Batavia mengatur ulang administrasi pemerintahannya. Dan belanda sebagai regulator yang harus dipatuhi. Sementara  Lekat Ale lebih sederhana melihatnya, karena dia harus patuh dan melayani pemerintah, karena bapaknya adalah salah satu aparat administrasi pemerintahan waktu itu.

Dan yang menarik adalah dialog antara Abdul Suseno dan Lekat Ale, disela sela mereka bekerja dalam ekspedisi ini,  Abdul Suseno mengungkapkan pikiran liarnya dan halusinasinya terkait keinginan hengkangnya belanda belanda itu dan orang pribumi yang menjadi pemerintahan sendiri, Dan Lekat Ale lebih simple dan merasa nyaman dengan kondisi saat ini, karena kala kekuasaan bangsa sendiri, lekat Ale meyakini tidak akan lebih baik dari sekarang.

BENGKULU

Hari ini, 6 Juni 1886 tampak biasa aktivitas di Kantor Keresidenan Bengkulu, beberapa staf tampak menjalani rutinitas seperti biasa. Tidak seperti biasa Dul (Abdul Suseno) agak pagi dari seperti biasanya masuk kantornya, terlihat dia bawa koper besar, Ya hari ini Dul bersiap untuk mengikuti atasannya biasa dia panggil Menner Sinyo (panggilan OL Helfrich), sebenarnya usia mereka gak terpaut jauh, sang atasannya 25 tahun, sementara si Dul lebih tua setahun, 26 tahun.

Dul, hier ben je, er is iets waar ik over wil praten”(Dul, sini kamu,ada yang ingin aku bicarakan), sebuah teriakan, dan Dul mengenalin suara itu, dan segera dia bergegas, sedikit berlari menemui ke ruangan arah suara itu.  Tampak seorang bule muda, berpakaian putih putih tersenyum kecil kepada si Dul.

 “Ja meneer, ik heb alles voorbereid, klaar om te gaan meneer,”( “Iya pak, saya sudah siapkan semuanya, siap berangkat pak,”) jawab Dul, dan tampak ada perintah pun dia segera mengemasin barang sang tuannya menuju mobil Ford Model T di depan Kantor yang sudah siap.

 Abdul Suseno tampak perlu menanyakan lagi seolah sudah tahu maksud tuannya itu,

O ya ini adalah sosok  Abdul  Suseno  yang bekerja di kantor Karesidenan Bencoelen, asal dari Soerabaja, keturunan Arab, Jawa, madura dan Ambon, meski bukan anak priyayi, si Dul ini biasa dipanggil,  bisa jadi pamong praja rendahan dan ditugaskan di Karesidenan Bencoelen.

Mobil Ford segera meluncur dari Kota bengkulu menuju Krui, salah satu bagian dari Karesidenan Bengkulu, Ol Helfrich lebih sering membawa sendiri mobilnya, kebetulan hari ini cuaca cukup cerah, kalau seandainya musim hujan dan badai mungkin ekspedisi ini akan ditunda, karena medan perjalanan cukup sulit.

Beberapa sungai dilewati, ada beberapa yang sudah dibangun jembatan, banyak juga yang masih bantuan rakit untuk menyebrangi. Hampir 2 hari perjalanan, sore hari kedua mobil Si Dul dan Tuannya sudah sampai wai manula (itu adalah daerah tapal batas antara Kabupaten Kaur dan Kabupaten Krui), sampai di tepi Sungai sambil nunggu rakit penyebrangan, Dul melihat disebrang sana terlihat sosok seorang yang sudah menuggu, Ya itu adalah Lekat Ale, dia adalah anak Prowatin (jabatan sekarang adalah kepala desa ) di Kroe, dia ini yang nantinya membantu Si Dul dan tuannya dalam ekspedisi ini, tugas Kat Ale adalah sebagai penerjemah Bahasa Lampung Krui.

Tidak terlalu lama, mobil ford sudah sampai di wilayah Afdeeling Kroe (Kalau sekarang setingkat Kabupaten), segera Kat Ale berlari kecil mendekati mobil mereka dan segera memberi salam kepada kedua orang tersebut.

 “Dul, aku udah siapkan semuanya, kasih tau Tuan Menner itu, kita nginap dulu di rumah Pasirah Pugung Malaya di Tanjung Sakti, karena ini hari udah sore, “ kata Kat Ale ke si Dul sambil menatap kecil Ol Helfrich.

 “Meneer, laten we eerst in zijn huis in Tanjung Sakti blijven, want het is laat vandaag”( Tuan, kita menginap dulu dirumahnya pasirah di tanjung sakti, karena hari ini udah sore) kata si Dul ke Tuannya dan tuannya mengangguk tanda persetujuannya.

Segera Kat Ale naik mobil bersama Si Dul dan Tuannya menuju rumah Pasirah (Pasirah adalah jabatan pemerintah lokal kala itu setara Camat kalau sekarang), tidak terlalu lama pun mereka sampai di Rumah Pasirah tadi, tampak sebuah Rumah Panggung Besar, biasa orang Krui menyebutnya Lamban Balak (Rumah Besar), selain sebagai tempat tinggal juga Kantor Pasirah juga.

Malam itu setelah makan jamuan yang disediakan Pasirah, maklum tamu kali ini bukan sembarang orang, OL Helfrich adalah Pajabat Kelas 2 di Karesidenan Bengkulu, selain itu juga dia seorang antropolog, ilmuwan dan budayawan. Segera sang Pejabat Kolonial itu beristirahat ke dalam kamar yang disediakan Pasirah. Dan si Dul bisa santai sejenak, dan segera keluar untuk mencari angin.

“ Dul, kita ngopi dulu,” Kat Ale memanggil Dul yang tampak mulai menuruni tangga kayu di Lamban Balak menuju tempat Kat Ale.

“ Ya lah kita ngopi dulu, Kat,” timpal Si Dul.

Oe, Dul, kita ngobrollah, tentang kerjaan kita ini, panjang waktunya ini,” kata Kat Ale sambil menghisap dalam rokok kreteknya.

‘Ya lah,….namanya juga tugas negara hehehehehe, jawab Dul agak kurang serius menanggapin keresahan Kat Ale.

 “Kamu bisa nyantai begini, sih, ini khan baru Di Distrik Pugung Malaya, perkiraan ku 6 bulan lebih perjalanan hingga nyampe distrik Belimbing di ujung sana, bahkan aku pun belum pernah kesana,” dengan mimik seriusnya Kat Ale, sambil memberikan pukulan kecil ke pundak Abdul Suseno. Dan Si Dul hanya nyengir sambil nyruput Kopi Lampung yang terkenal enak.

 Tampak si Dul mengeluarkan kertas terkait jadwal perjalanan ini, dan mulai menerangkan ke Kat Ale.

 “Sini liat, jadwalnya Kat, sambil si Dul menunjukkan catatan ekpedisi Ilmiah ini.

 “Dari distrik ini, Kat, paling lima hari kita disini, karena Tuan Menner mau juga melihat proses administrasi Pasirah disini, kemudian ke perkebunan Marga di Lemong, dan terakhir mau melihat Labuhan Ballak, tempat nelayan menambat perahunya, tepat di Dusun Way Batang, “ Kat mendengarkan dengan serius.

 “ Terus kita ke Distrik Pugung Tampak, Way Sindi, Penggawa Lima Ulu, Penggawa Lima Tengah lalu Ke Ulu Krui,” Si Dul meneruskan menjelaskan ke Kat Ale Jadwal perjalanan Ekspedisi ini, dari Ulu Krui, Kita ke Pasar Krui, bertemu dulu Controleur Afdelling Kroe dan menyiapkan perbekalan, laju ke Way napal, Tenumbang, ntar kita menginap di Bumi Lebu, Pas nyeberang lewat Way Biha, maunya Tuan Menner kita agak lama di Dusun Pedadawan. Sebelum ke Ngambur, Ngaras, Bengkunat dan Terakahir ke Distrik Belimbing, khan Lamban Balllaknya Pasirah itu dekat Mercu suar loh, Kat”.

Lekat Ale tampak gembira mendengarnya, karena meski dia tinggal di Pasar Krui, pusat pemerintahan Afdelling Kroe, Kat pun belum pernah ke mana mana, bahkan jemput ke Manula kemaren aja, baru pertama kali. Memang sebelumnya Abdul Suseno mengirimkan surat tugas dari Residen bengkulu terkait tugas sebagai penerjemah membantu kelancaran ekspedisi OL Helfrich ini.

Meski sebenarnya tugas tersebut harusnya oleh Mantri, O Ya dalam sistem administrasi waktu itu Controleur itu dibantu seorang mantri yang bertugas sebagai penghubung ke para pasirah, yakni Kepala kepala Distrik, karena Controleur orang Belanda, mantri harus pribumi yang menguasai bahasa Krui.

Tapi oleh sang Mantri, Kat Ale yang ditunjuk.  Setelah memahamin penjelasan Si Dul, Kat Ale segera mengalihkan pembicaraan ke hal hal lainnya.

“ Perkiraan ku awal desember tahun 1886, selesai ini ekspedisi, Dul, kalau tidak ada hujan badai, “ menutup pembicaraan terkait jadwal ekspedisi bersama OL Hefrich.

 “ Ya udah lah, Kat, kita jalani aja,” kata Dul,  Yuuu, jawab Kat Ale,

 “Eh Dul, kamu gak pingin pulang Ke Jawa apa. Liat bapak ibumu  di Surabaya sana., tanya Kat Ale mencoba menggugah kekangenan Dul terhadap tanah kelahirannya.

 Dul tampak mengernyitkan keningnya dan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

 O Ya si Dul ini mulai bekerja di Bengkulu sejak tahun 1884 karena diajak Pamannya yang seorang perwira Djawa KNIL yang dikirim ke Aceh, tapi transit dulu Bengkulu dan sebelum berangkat ke Aceh sang Paman menitipkan ke Ol Hefrich karena dia itu teman baik sang Paman.

 “Kat aku mau ngobrol serius nih, coba kau liat tadi gaya pasirahmu, menyambut Tuan menner, penuh keterpura-puraan dan terlihat banget ke berhambaanya kepada Tuan Asingnya, miris aku Kat, Dan itu semua dilakukan para Pasirah yang ada di Bengkulu ini,” memulai pembicaraannya Si Dul,

  O ya meski dia bekerja sama pemerintah Hindia Belanda, Abdul Suseno punya idealis juga, karena sejak di Surabaya, meski bukan anak priyayi, Dul adalah anak muda yang cerdas, dia menguasai Bahasa Belanda dan senang membaca.  Sehingga kejenggahan terhadap pemerintah waktu itu mulai tumbuh. Kelak di tahun 1911 di Surabaya tumbuh kekritisan anak anak muda juga seperti Si Dul yang di didik oleh seorang Priyayi Jawa yang rela melepaskan kebangsawanannya , Ya dia itu Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

 “ Sudah lah Dul, kau ini terlalu tinggi harapanmu, berpikir sederhana saja lah, kita kerja sesuai tugas kita, kita dapat upah, sudah !!!, agak tinggi suara Kat Ale melihat omongan Dul yang melangit ini.

 Memang Kat Ale sudah pernah mendengar mimpi si Dul itu, waktu itu kala dia ke Krui mengantarkan berkas berkas administrasi yang sebulan sekali dibawanya bersama kawalan Polisi, memang tugas Dul adalah sebagai kurir untuk Krui, dan dari itu dia mulai mengenal Kat Ale, dan sering dia cerita ke Kat Ale tentang keinginannya Belanda Belanda itu enyah dari negeri ini.

 “Ah, kau ini, Kat, kata Dul sambil menghela nafas dalam dalam, sementara kopi ditangannya pun belum diminum lagi. “Mumpung mimpi ini gratis, Kat, sambil menendang kakinya Kat Ale.

“ Bangun oee, kita membumi sajalah dan berpikir praktis sajalah, heheheheh, Kat Ale mencoba memukul halus pipi Dul seperti orang membangunkan tidur.

Dan Kat Ale melanjutkan omongannya,” Dul, kalo aku pribadi lebih nyaman saat ini, kita masih bisa bekerja, dapat upah, dan liat Krui ini aman aman saja, produksi Lada, kopi jalan terus, Bak Ku (sebutan bapaknya Kat Ale, di Krui) diupah juga oleh Controluer khan dia Prowatin.”

“Aku pun bisa berkarya dan berdagang kopi, sebulan 3 kali aku kirim kopi ku ke Batavia, lewat pelabuhan, pake kapal KPM, punya pemerintah juga.” Lanjut Kat Ale.

Kat Ale terus ngomong, dan Dul masih serius mendengarkan, Tak lama sambil menyalakan rokoknya si Dul mulai membantah omongan Kat Ale, dan Kat Ale sudah sering mendengarnya.

“ Coba kau pikir Kat, sambil membuang asap rokoknya keatas, tanda kegelisahan si Dul, “ Aceh bergolak, perang Jawa pun berakhir dengan muslihat, Padang dengan perang Paderinya, mereka semua diadu domba, dan hari ini aku belum dengar kabar Pamanku yang pimpin Divisi Marsose untuk memadamkan Gejolak di Aceh, dia perang dan membunuh saudarnya sendiri di Aceh.”

 “Memang disini, Krui ini, aman aman saja, coba kalau kau  tinggal di Surabaya, atau bahkan kau tinggal di Bukit Tinggi, bahkan di Aceh, aku yakin kau pasti berubah pikiran”. Mimik serius Dul mencoba menyakinkan Kat Ale.

 “ Sudahlah Dul, Dul, aku tetap menikmati saat ini saja, kita syukurin nikmat kita hari hari ini sajalah, biarkanlah saja mereka itu, minum Kopi itu, Kat Ale mencoba mencairkan gejolak ati Si Dul, dan Dul pun memahami pola pikir Kat Ale yang berpkir sederhana dan cenderung pragmatis.

“Udahlah kita tidur aja, udah tengah malam ini, karena pembicaraan ini tidak akan pernah selesai, tutup Abdul Suseno.

‘Kheno tek, santai goh tek (Gitu aja kawan, santai aja), timpal Kat Ale dengan bahasa Kruinya sambil terkekeh.

Dan malam ini pun mereka segera beranjak tidur ke kamarnya, karena besok mereka mulai perjalanan panjang untuk menyelesaikan ekspedisinya bersama Tuan Menner.

 
  • Abdul Suseno dan Lekat Ale adalah tokoh fiktif
  • OL Helfrich bersama Dul Dan Kat Ale akhirnya menyelesaikan ekpedisi dan  pada tanggal 16 Desember 1886 di Benkoelen, Tuan menner membukukan hasil ekpedisis dalam bukunya “ Bijdrage Tot De Geograpische, Geologische En Ethnograpische Kennis der Afdeeling Kroe” (Kelak pada tahun 1901 menjadi Residen Jambi)
  • Kelak di Tahun 1899 C,Th Van Deventer memeloporin Politik Etis sebagai  bentuk tanggung jawab moral poenerintah kolonial bagi kesejahteraan bumi putera, yang terangkum dalam Trias Van Deventer :
    • Irigasi
    • Imigrasi
    • Edukasi
  • Akibat Politik Etis, anak anak Bumi Putera mulai bangkit, dan kelak di tahun 1945, negeri ini Merdeka dan punya pemerintahan sendiri, seperti mimpinya Abdul Suseno,
  • Tapi Merdeka 100% masih belum tercapai  hingga hari ini…..
  • Dan mimpi Abdul Suseno masih jauh.
  • Merdeka 100% Tapi Tidak Mati

Fadlun Abid (Cak Lun) Krui, 19 Juni 2021

Print Friendly, PDF & Email